AKU DIBERI REZEKI MENCINTAInya

Oleh : Abu Hasan Arif

            Segala puji bagi Allah, Rabul Alamin, Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan atas Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam, keluarga, para sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik.

            Pembaca budiman,

            Mencintai seorang wanita adalah bagian dari kesempurnaan manusia. Allah ta’ala menjadikan istri “sebagai tempat berlabuh” bagi seorang suami, hatinya akan senantiasa “tenang dan tentram” jika berdekatan dengan istrinya.

            Dan Allah ta’ala menjadikan diantara suami istri “cinta yang murni”, yaitu kecintaan yang di iringi rasa kasih dan sayang. Maka kecintaan suami terhadap istri bukanlah “hal tercela”, bahkan cintanya itu adalah karunia Allah.

            Allah ta’ala berfirman :          

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS ar-Rum : 21)

            Allah menjadikan seorang wanita sebagai “tempat tinggal” bagi lelaki. Dan lelaki “tidak akan mampu bersabar” melihat wanita yang menarik perhatiannya.

Allah ta’ala berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

 
Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS an-Nisa : 26-28) Tentang tafsir “Dan manusia dijadikan bersifat lemah ”, Thawus berkata : “Dalam permasalahan wanita (lelaki tidak akan sabar jika melihat wanita).” (Tafsir ath-Thabari)
 
 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Jabir radhiyallahunahu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً لَهَا فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

 Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melihat seorang wanita, lalu beliau menemui Istrinya, Zainab, saat dia menggosok kulit[1], kemudian beliau menyetubuhinya. Setelah itu beliau keluar menuju para sahabat beliau dan bersabda : “Sesungguhnya seorang wanita datang menyerupai gambaran syaitan[2], dan pergi menyerupai gambaran syaitan, maka jika salah seorang dari kalian melihat seorang wanita hendaklah dia menyetubuhi istrinya, karena yang demikian itu akan menolak hal yang terbersit dalam jiwanya.” (HR Muslim)

            Dapat kita ambil faedah hadits di atas hal-hal berikut ini :

  1. Disunnahkan bagi lelaki yang melihat seorang wanita, lalu tergerak syahwatnya untuk mendatangi istrinya atau budaknya, jika dia memiliki budak. Kemudian menyetubuhinya, yang demikian itu agar syahwatnya dapat tertolak/teralihkan lalu menjadi tenang jiwanya.
  2. Mengobati kekaguman terhadap wanita yang mengakibatkan bergeraknya syahwat adalah dengan “obat yang paling manjur” yang mendatangi istri dan menyetubuhinya.
  3. Demikian pula petunjuk kepada jejaka dan gadis, atau lelaki dan wanita yang saling cinta-mencintai hendaknya segera mendatangi dan mengikat dengan “perkawinan”. Sebagaimana sabda Nabi :

لَمْ يُرَ لِلْمُتَحَابِّينَ مِثْلُ النِّكَاحِ

        “Tidak ada sesuatu yang terlihat bagi dua orang yang saling mencintai seperti pernikahan” (HR Ibnu Majah, ash-Shahihah 624)

            Makna hadits tersebut : “Bahwasanya seorang lelaki jika melihat seorang wanita lalu mencintainya maka obatnya adalah menikahinya” atau “Obat yang paling mujarab yang dapat mengobati orang yang sedang jatuh cinta terhadap seorang wanita adalah menikahinya, dan tidak ada obat yang menyamainya.” Dan inilah obat yang sesuai syariat Islam.

NABI MENCINTAI WANITA

            Tidak diragukan lagi, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam dijadikan Allah mencintai wanita, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Dijadikan kecintaan pada diriku terhadap dunia kalian kepada wanita-wanita dan wewangian, dan dijadikan penyedap pandangan mataku di dalam shalat.” (HR al-Hakim, ash-Shahihah 3291)

            Maka bukanlah aib bagi seorang suami mencintai dan merindukan istrinya. Kecuali jika kecintaannya melalaikan dia dari sesuatu yang lebih bermanfaat baginya, yaitu kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kecintaannya kepada istrinya “membantunya” terhadap kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya maka cintanya adalah terpuji.

            Maka kecintaan yang bermanfaat tiga : Cinta kepada Allah, Cinta di jalan Allah, dan Cinta yang membantu untuk taat pada Allah.[3]

            Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya :

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟

“Siapa manusia yang paling Engkau cintai?”

Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab :  عَائِشَةُ “Aisyah” (HR Muslim)

      CINTA NABI KEPADA KHADIJAH BINTI KHUWAILID

            Ada istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang amat beliau cintai, dia bukan Aisyah radhiyallahuanha, sampai-sampai Aisyah radhiyallahuanha sangat mencemburuinya, padahal istri beliau ini telah meninggal dunia.

            Khadijah  binti Khuwailid, ya benar….dialah yang sangat dicintai oleh beliau, hingga beliau bersabda : “Sesungguhnya aku diberi rezeki mencintainya.”

Aisyah radhiyallahuanha berkata :

مَا غِرْتُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا عَلَى خَدِيجَةَ ، وَإِنِّي لَمْ أُدْرِكْهَا ، قَالَتْ : وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَبَحَ الشَّاةَ ، فَيَقُولُ : أَرْسِلُوا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ ، قَالَتْ : فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا ، فَقُلْتُ : خَدِيجَةَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا “

“Aku tidak pernah memiliki rasa cemburu yang lebih tinggi kepada para istri Nabi seperti kecemburuanku terhadap Khadijah, padahal aku tidak pernah menjumpainya.” Aisyah melanjutkan kisahnya : “Dan Rasulullah itu, jika menyembelih kambing,  beliau berkata : Kirimkan dagingnya untuk teman-teman Khadijah.” Aisyah melanjutkan : Suatu hari aku membuat marah Nabi, aku katakan : ‘Khadijah (lagi, khadijah lagi).’ lalu Nabi menjawab : “Sesungguhnya aku diberi rezeki mencintainya.” (HR Muslim)

Aisyah radhiyallahuanha berkata :

 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ ، أَثْنَى عَلَيْهَا ، فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ ، قَالَتْ : فَغِرْتُ يَوْمًا ، فَقُلْتُ : مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ ، قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا ، قَالَ :” مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا ، قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ ، وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ ، وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ ، وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ “

Nabi itu, jika menyebut Khadijah, beliau selalu memujinya, sangat menyanjung khadijah. Aisyah melanjutkan kisahnya : Suatu hari aku cemburu, lalu kukatakan : Alangkah banyaknya engkau mengenang Khadijah, wanita yang telah meninggal, bukankah Allah telah menggantikan bagimu yang lebih baik darinya? Beliau shallallahu alaihi wasallam  menjawab : “Allah tidak menggantikan bagiku wanita yang lebih baik dari Khadijah, dia beriman kepadaku saat orang-orang mengingkariku, dia mempercayaiku saat manusia mendustakanku, dia menolongku dengan hartanya saat manusia tidak mau menolongku,  dan dari Khadijah, Allah memberikan rezeki kepadaku berupa anak lelaki saat   istriku lainnya tidak diberi rezeki Allah anak lelaki. ”  (HR Ahmad)

            Khadijah binti Khuwailid radhiyallahuanha, itulah nama yang harum mewangi sepanjang masa. Wanita pertama yang beriman dan membenarkan risalah Nabi. Wanita yang menyelimuti Nabi, saat beliau shallallahu alaihi wasallam berkata : “Selimutilah aku…selimutilah aku..”

            Wanita yang menolong Rasul termulia. Sehingga pantaslah dia mendapatkan kemuliaan, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

” خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ “

Sebaik-baik wanita di masanya (di langit dan bumi) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita di masanya (di langit dan bumi) adalah Khadijah. (HR Muslim)

            Begitu mulianya Khadijah binti Khuwailid shallallahu alaihi wasallam, sehingga Nabi sangat mencintainya, demikian pula Malaikat Jibril mencintainya, bahkan Allah ta’ala Pencipta langit dan bumi mencintainya. Abu Hurairah radhiyallahuanhu berkata :

 أَتَى جِبْرِيْلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ياَ رَسُوْلَ الله هَذِهِ خَدِيْجَةُ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيْهِ إِدَامٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي، وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لاَ صَخَبَ فِيْهِ وَلاَ نَصَبَ.”

Malaikat Jibril mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata : “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepadamu membawa tempat berisikan makanan dan minuman, maka jika dia menemuimu, sampaikan salam padanya dari Rabbnya dan dariku, dan berilah kabar gembira padanya dengan sebuah rumah di surga dari permata, tak ada kegaduhan dan tidak ada kepayahannya di dalamnya.” (muttafakun alaihi)

            Allah ta’ala mengucapkan salam padanya?! Allahu Akbar! Dan Khadijah binti Khuwailid adalah penghuni surga!

            Demikianlah sosok wanita yang sangat dicintai Rasulullah, dan sangat mencintai Rasulullah, yang mempersembahkan apa yang dimilikinya untuk keridhaan suaminya, Rasulullah. Dirinya, hartanya, bahkan dia hadiahkan budaknya (yaitu Zaid bin Haritsah) untuk Rasulullah.

            Pantaslah Khadijah binti Khuwailid  mendapatkan kecintaan Allah.

            Lalu apa yang kita telah persembahkan kepada Allah untuk mendapatkan kecintaan-Nya? Sudahkan kita bertaubat, beramal shalih dan berjihad menegakkan tauhid di jalan Allah? Berjuang menegakkan ajaran Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam?

            Ya Allah kami memohon kecintaan-Mu, dan kecintaan orang yang Engkau cintai, dan Kami memohon amalan-amalan yang mendekatkan diri kami pada kecintaan-Mu, dan jadikanlah kami penghuni surga-Mu. Amin

Referensi :

  • Al-Quranul Karim
  • Kitab ad-Daa Waddawa karya Ibnul Qayyim
  • Kitab Ighatsatul Lahfan karya Ibnul Qayyim
  • Kitab Zaad al-Ma’ad Karya Ibnul Qayyim
  • artikel-artikel lainnya, dan segala puji hanya milik Allah.

[1]    Saat Zainab, menguliti kulit dan membersihkanya.

[2]    Artinya : Keberadaan wanita akan menarik syawat dan perhatian lelaki yang menjadikan lelaki terfitnah dan terbayang-bayang, sekalipun lelaki itu tidak berkeinginan sedikitpun untuk terbayang padanya. Yang demikian itu dikarenakan kecenderungan yang Allah jadikan pada seorang lelaki terhadap wanita dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Maka hal ini seperti syaitan yang menghiasi kejahatan dan mengajak manusia berbuat jahat. (Minnah al-Mun’im, Syarah Shahih Muslim hadits No 3407)

[3]    Ucapan Ibnul Qayyim dalam kitab Ighatsah al-Lahfan hal 853, al-Halaby.

Sahabat terbaik, dan tetangga terbaik

Saudaraku se agama…

Menjadi manusia yg terbaik, bukankah itu keinginan kita?

Manusia terbaik di sisi Allah, sebagai sahabat atau tetangga.

Dengan banyak memberi segala kebaikan kepada sahabat dan tetangga.

Memberi?

Iya memberi.

Memberi makanan. Memberi uang. Memberikan hadiah. Memberi nasehat yg menghilangkan kesedihannya. Memberi apa yg kita punyai dari segala kebaikan.

Mari kita banyak memberiAgar menjadi terbaik di sisi Nya

Sebagai sahabat saudara kita

Sebagai tetangga kepada tetangga kita.

Saudaraku…

Memberi… Memberi….. dan memberi

****

Yang membutuhkan ampunan Nya

Sa’dan

……قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: فأكُونُ أوَّلَ مَن يُجِيزُ، ودُعَاءُ الرُّسُلِ يَومَئذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ. وبِهِ كَلالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ، أما رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ؟ قالوا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: فإنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ، غيرَ أنَّهَا لا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إلَّا اللَّهُ، فَتَخْطَفُ النَّاسَ بأَعْمَالِهِمْ….. صحيح البخاري 6573

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku yg pertama kali melintasi jembatan jahannam, dan doa para rasul saat itu : Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah. Di jembatan itu ada besi-besi pengait seperti duri tanaman Sa’dan. Tidakkah pernah kalian melihat duri tanaman Sa’dan? Mereka menjawab : Benar wahai Rasulullah. Nabi bersabda: Pengait-pengait besi di neraka itu seperti duri Sa’dan, hanya saja tidak ada yg tahu besarnya kecuali Allah, lalu menyambar manusia sesuai amal-amal mereka….. (Sahih al Bukhari 6573)