“Maksud diturunkannya al Qur’an”

*Ta-ammul Qur’an* (membaca dengan penuh perhatian padanya) adalah “menetapkan ketajaman” pandangan hati kepada makna-maknanya,  dan “menghimpun pikiran” dalam men- *tadabburi*-nya (menghayatinya) dan dalam memahaminya.

*Dan itulah maksud diturunkannya al Qur’an,  bukan hanya membacanya tanpa memahami dan mentadabburinya,*  Allah ta’ala berfirman:

{ كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَیۡكَ مُبَـٰرَكࣱ لِّیَدَّبَّرُوۤا۟ ءَایَـٰتِهِۦ وَلِیَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ }
[Surat Shad: 29]

“Kitab (al-Qur`ān) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka men-tadabburi (menghayati) ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

***

Dekatkan diri padaNya dengan membaca al Qur’an

*“Mendekatkan diri pada Allah ta’ala dengan banyak membaca al Qur’an dengan menghayati,  memikirkan dan merenungkan ayat-ayatnya”*

Di antara amalan sunnah yang paling besar,  paling mulia dalam “bertaqorrub” kepada Allah ta’ala (mendekatkan diri padaNya), *yaitu banyak membaca dan mendengarkan al Qur’an,  dengan “Tafakkur (memikirkan ayatnya),  Tadabbur (menghayati ayatnya),  Tafahhum (memahami ayatnya)”*

Khobab bin al art (  خباب بن الأرت) berkata kepada seseorang:
“Taqorrub-lah kepada Allah semampumu,  ketahuilah tidaklah engkau ber-taqorrub pada Allah ta’ala dengan sesuatu yang lebih Dia cintai,  dari firmanNya.”

***

“Sekiranya, suatu hari masa muda kembali lagi”

Disana ada kenangan-kenangan Indah yang melintas di benakmu,  memaksamu “tersenyum”, “menangis menitikkan air mata”.

Banyak sekali kenangan-kenanganmu yg kau tinggalkan… 
Menjadi sebuah kisah-kisah yang tak tertulis…
Menjadi “sebuah pelajaran” dalam kehidupanmu.

Kenangan-kenangan masa lalu…  Menjadi sebuah kerinduan dimanapun engkau berada

Kerinduan pada masa muda
Yang telah meninggalkanmu.    

Aku menangisi masa mudaku dengan air mataku
Namun isakan dan tangisan yang keras tidak bermanfaat lagi

Oh masa muda,  Aku menyesali hari-hari masa mudaku (yang telah hilang)
Di Masa tua,  saat  rambut telah berwarna hitam dan putih meratapinya

Aku telah melepaskan masa muda yang dahulunya Indah elok berseri

Sebagaimana dahan pohon tidak ada lagi dedaunan,  kering, rontok satu persatu

Sekiranya ada suatu hari, masa muda kembali lagi
Aku akan memberitahu masa muda
Apa saja yang telah dilakukan masa tua

بَكيتُ عَلى الشَبابِ بِدَمعِ عَيني

فَلَم يُغنِ البُكاءُ وَلا النَحيبُ

فَيا أَسَفا أَسِفتُ عَلى شَبابِ

نَعاهُ الشَيبُ وَالرَأسُ الخَضيبُ

عَريتُ مِنَ الشَبابِ وَكانَ غَضّاً

كَما يَعرى مِنَ الوَرَقِ القَضيبُ

فَيا لَيتَ الشَبابَ يَعودُ يَوماً

فَأُخبِرُهُ بِما صَنَعَ المَشيبُ

“Memohon ampunanNya,  setelah beramal shalih”

Allah ta’ala memerintahkan hamba-hambaNya,  untuk menutup amal shalih dengan “istighfar”, memohon ampunanNya.
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam jika selesai shalat beliau beristighfar tiga kali,  dan Allah ta’ala berfirman:

“…. dan orang-orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar. “

{ … وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِینَ بِٱلۡأَسۡحَارِ }
[Surat Ali ‘Imran: 17]

Allah ta’ala memerintahkan mereka untuk shalat malam, dan memohon ampunan,  beristighfar di waktu sahur.

Demikian pula,  Allah ta’ala menutup surat al Muzammil, yaitu surat yang berisikan ayat perintah shalat malam,  dengan firmanNya :

“…..Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

{ ۞… وَٱسۡتَغۡفِرُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورࣱ رَّحِیمُۢ }
[Surat Al-Muzzammil: 20]

ب***

“Hampir saja, “Muallim” menjadi pembawa Risalah”

“Hampir saja, “Muallim” menjadi pembawa Risalah”

Sesungguhnya ilmu adalah batu pondasi, yang mana umat bangkit dan berdiri di atasnya, serta berjalan dalam “kafilah peradaban”.

Manusia tidak akan mampu mencapai puncak ketinggian peradaban, kecuali melalui ilmu.

Dan tidak mungkin dia mendapatkan ilmu dan mencapai tujuannya, kecuali harus melalui “guru”, “pengajar dan pendidik”, melalui “muallimnya”.

Guru adalah seorang yang mempunyai keutamaan yang “menjulang tinggi”.

Guru adalah seorang yang mengeluarkan manusia dari “kegelapan kebodohan”, menuju “cahaya ilmu. “

Guru adalah seseorang yang berhak mendapatkan penghormatan masyarakat.

Wajib bagi para pelajar, untuk menghormati guru yang telah memberikan “puncak” ilmu mereka, serta mengharapkan para muridnya mendapat masa depan yang “bercahaya”, “bersinar terang benderang”.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Bukanlah dari kita (bukan dari jalan, petunjuk dan sunnah kita), seseorang yang tidak memuliakan yang tua dan tidak mengasihi yang kecil, dan tidak mengetahui hak ulama kita.”

ليسَ منَّا منْ لمْ يُجِلَّ كبيرَنا، ويرحمْ صغيرَنا و يعرفْ لعالِمِنَا حقَّهُ.

الراوي: عبادة بن الصامت , المحدث: السيوطي, المصدر:  الجامع الصغير, الصفحة أو الرقم:  7675, خلاصة حكم المحدث:  صحيح

ورد في “فتاوى الشيخ ابن جبرين” (4/ 14، بترقيم الشاملة آليا) قوله:
“إن العلماء والدعاة والمعلمين لهم رتبة ومكانة راقية، وقدر في النفوس، حيث إن الله تعالى ميزهم، وحملهم العلم الشرعي، والفقه في الدين، والدعوة إليه، وجعل لهم منزلة مرموقة، سيما إذا تصدوا للتدريس في الجامعات، أو المعاهد العلمية، أو الحلقات، أو المنابر، ومواضع الدعوة، فإن على الطلاب أن يعرفوا لهم قدرهم، ويحترموهم .
وقد قيل في المعلم:
قم للمعلم وفه التبجيلا ** كاد المعلم أن يكون رسولا” انتهى.

Syaikh Jibrin rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya ulama, para dai, para muallim pengajar kebaikan, mereka mempunyai kedudukan derajat tinggi, dan penghargaan pada jiwa, dimana Allah ta’ala meng-istimewakan mereka, memikulkan pada mereka ilmu syariat agama Islam, fikih agama, dan berdakwah pada agama. Dan Allah ta’ala menjadikan mereka memiliki “kedudukan yang tinggi”, terlebih lagi jika mereka mengajar di perguruan-perguruan tinggi, mahad-mahad (pondok-pondok pesantren), halaqah-halaqah pengajian, mimbar-mimbar, dan tempat-tempat dakwah lainnya.
Maka hendaknya para pelajar, para penuntut ilmu mengetahui kadar derajat mereka, dan menghormati mereka, dan dikatakan kepada “al Muallim”:

Bangun berdirilah untuk “muallim” dan hormatilah!

“al Muallim” hampir menjadi pembawa risalah


Allah ta’ala berfirman:

{ … یَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمۡ وَٱلَّذِینَ أُوتُوا۟ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَـٰتࣲۚ … }
[Surat Al-Mujadilah: 11]

“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Seorang “muallim” membawa risalah ilmu, akhlak, dan dia memikul “beban amanah generasi kemudian” di pundaknya.


@hasan

Air dan Dunia


“Air dan Dunia”

Allah ta’ala berfirman :

“Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

{ وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلَ ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا كَمَاۤءٍ أَنزَلۡنَـٰهُ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ فَأَصۡبَحَ هَشِیمࣰا تَذۡرُوهُ ٱلرِّیَـٰحُۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ مُّقۡتَدِرًا }

[Surat Al-Kahfi: 45]

Allah ta’ala menyerupakan dunia dengan “air”.

Karena air tidak akan tetap dalam satu tempat.
Demikian pula dunia,  tidak tetap dalam satu keadaan.

Karena air tidak “istiqamah” dalam satu keadaan,  demikian pula dunia.

Karena air “tidak akan kekal” dan “akan pergi, lenyap”, demikian pula dunia, “fana”, akan rusak,  lenyap.

Karena air,  seorang yang masuk menyelaminya pasti tidak akan mampu tetap kering tubuhnya,  pasti basah,  demikian pula dunia,  seorang yang masuk menyelaminya tidak akan selamat dari fitnahnya,  ujiannya,  petakanya.

Karena air,  jika sesuai kadarnya akan bermanfaat,  menumbuhkan tanaman.  Jika ukurannya melebihi,  maka akan bermudharat,  membinasakan. Demikian pula dunia, yang sesuai kadar hajatnya,  akan memberi manfaat.  Sebaliknya,  jika berlebihan akan memberi mudharat.

***
Tafsir al Qurthubi

Kepada orang kaya

Kepada orang-orang kaya

Oleh Ali at tantawi rahimahullah

Wahai mereka yg tidur di atas kasur yg nikmat…
Wahai mereka yg “aman” di depan penghangatan perapian…
Wahai mereka yg berada di rumah luas istana-istana…
Wahai mereka yg bersuka ria dalam kelezatan kehidupan…

Wahai mereka yg tidak mengetahui cara menjaga harta…
Apakah “dibekukan” menjadi emas batangan…
Atau “merubah” menjadi dollar….
Atau “menumbuhkan” menjadi saham…

Tidak mengetahui kemana harus mereka infakkan kelebihan harta…
Tidak berhenti bertanya rumah yg lebih indah dari yg mereka tempati…
Tidak berhenti bertanya tentang mobil yg lebih mewah dari yg mereka miliki….
Tidak berhenti bertanya perabot rumah yg lebih modern dari yg mereka miliki…

Wahai orang kaya…
Ingatlah disana ada saudaramu, se ayah dan se ibu, adam dan hawa….
Yg tidak mempunyai selimut menutupi kedinginan…
Yg tidak punya kamar bagus untuk istirahat….
Tidak mempunyai api menghangatkan diri…

Tidak tahu bagaimana mendapatkan uang untuk membeli makanan pengganjal perut….
Untuk membeli obat dari sakit….
Di negeri ini ada yg sangat fakir dan miskin….
Ada pengungsi …..

Engkau bukanlah “anak adam”, bukanlah manusia jika menelantarkan saudara kalian…
Tidak memperhatikan mereka…

Carilah orang fakir tetanggamu….
Tanyakanlah pada anakmu, siapa temannya yg fakir, bagaimana pakaiannya…

Barangkali “baju usang” anakmu bisa menjadi “hadiah lebaran” mereka…
Barangkali “sedikit uang lembaran” yg kalian anggap sedikit dan kalian infakkan utk mereka adalah “kekayaan” bagi mereka….

Janganlah tertipu dengan kekayaan…
Seringkali terjadi “orang kaya” menjadi “miskin”….
Jangan tertipu dg “sehat” badan…
Seringkali orang yg sehat menjadi “sakit”….
Engkau akan meninggalkan dunia ini…
Tidak ada yg kekal di dunia ini….
Dan di depanmu ada “hari hisab”…
Kamu akan dihadapkan pada Tuhanmu…

Maka jadikanlah “sedekah” sebagai syukur atas nikmat yg diberikan padamu…
Penghapus kesalahanmu…

Dan rahasiakan sedekah, yg kanan tidak diketahui yg kiri….
Akan berlipat ganda pahalamu di sisi Tuhanmu…

Atau tampakkanlah sedekahmu….
Agar dicontoh yg lain….
Dan mengikuti amal kebaikanmu….

Wahai orang kaya…
Dengarkan nasehatku padamu…
Demi Allah, aku telah menasehatimu….

Kepada orang-orang kaya

Oleh Ali at tantawi rahimahullah

Wahai mereka yg tidur di atas kasur yg nikmat…
Wahai mereka yg “aman” di depan penghangatan perapian…
Wahai mereka yg berada di rumah luas istana-istana…
Wahai mereka yg bersuka ria dalam kelezatan kehidupan…

Wahai mereka yg tidak mengetahui cara menjaga harta…
Apakah “dibekukan” menjadi emas batangan…
Atau “merubah” menjadi dollar….
Atau “menumbuhkan” menjadi saham…

Tidak mengetahui kemana harus mereka infakkan kelebihan harta…
Tidak berhenti bertanya rumah yg lebih indah dari yg mereka tempati…
Tidak berhenti bertanya tentang mobil yg lebih mewah dari yg mereka miliki….
Tidak berhenti bertanya perabot rumah yg lebih modern dari yg mereka miliki…

Wahai orang kaya…
Ingatlah disana ada saudaramu, se ayah dan se ibu, adam dan hawa….
Yg tidak mempunyai selimut menutupi kedinginan…
Yg tidak punya kamar bagus untuk istirahat….
Tidak mempunyai api menghangatkan diri…

Tidak tahu bagaimana mendapatkan uang untuk membeli makanan pengganjal perut….
Untuk membeli obat dari sakit….
Di negeri ini ada yg sangat fakir dan miskin….
Ada pengungsi …..

Engkau bukanlah “anak adam”, bukanlah manusia jika menelantarkan saudara kalian…
Tidak memperhatikan mereka…

Carilah orang fakir tetanggamu….
Tanyakanlah pada anakmu, siapa temannya yg fakir, bagaimana pakaiannya…

Barangkali “baju usang” anakmu bisa menjadi “hadiah lebaran” mereka…
Barangkali “sedikit uang lembaran” yg kalian anggap sedikit dan kalian infakkan utk mereka adalah “kekayaan” bagi mereka….

Janganlah tertipu dengan kekayaan…
Seringkali terjadi “orang kaya” menjadi “miskin”….
Jangan tertipu dg “sehat” badan…
Seringkali orang yg sehat menjadi “sakit”….
Engkau akan meninggalkan dunia ini…
Tidak ada yg kekal di dunia ini….
Dan di depanmu ada “hari hisab”…
Kamu akan dihadapkan pada Tuhanmu…

Maka jadikanlah “sedekah” sebagai syukur atas nikmat yg diberikan padamu…
Penghapus kesalahanmu…

Dan rahasiakan sedekah, yg kanan tidak diketahui yg kiri….
Akan berlipat ganda pahalamu di sisi Tuhanmu…

Atau tampakkanlah sedekahmu….
Agar dicontoh yg lain….
Dan mengikuti amal kebaikanmu….

Wahai orang kaya…
Dengarkan nasehatku padamu…
Demi Allah, aku telah menasehatimu….


Jika Allah ta”ala mencintai kaum, Dia akan menimpakan bala’ ujian dan musibah

12 juni 2021
3 syawwal 1442

https://dorar.net/hadith/sharh/136896

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :
إنَّ عِظمَ الجزاءِ مع عِظمِ البلاءِ ، وإنَّ اللهَ إذا أحبَّ قومًا ابتَلاهم ، فمَن رَضي فله الرِّضَى ، ومَن سخِط فله السَّخطُ

صحيح الترمذي 2396

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ‘bala’ (bencana), dan sesungguhnya Allah jika “mencintai” suatu kaum, Dia “menimpakan bala” pada mereka. Maka siapa yg “ridha” baginya keridhaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.

Penjelasan :

Di antara hikmah Allah ta’ala adalah “memberikan” bala, yaitu ujian dan musibah, menguji hambaNya. Agar Dia mengetahui “yang beriman dan taat” dari “yang durhaka dan murka terhadap musibah”.

‘Bala’ ujian dan musibah kadang di timpakan dalam bentuk “kesenangan” dan “kesusahan”.

Sesuai kadarnya, jika ‘bala’ ujian dan musibah “berat”, maka semakin “berat” dan “besar” pahalanya.

“Sesungguhnya Allah jika “mencintai” suatu kaum, Dia “menimpakan bala” pada mereka.”

Yaitu menguji mereka dengan “ujian dan musibah”, barangsiapa menerimanya dengan “ridha”, maka Allah akan meridhainya dan akan membalas dengan kebaikan dan pahala di akhirat.

Dan barangsiapa menerima dengan “ketidaksenangan” dan “kemurkaan”, maka baginya “kemurkaan “. Allah ta’ala murka dan tidak meridhainya di akhirat.

Yang demikian itu karena “musibah”, “sakit dan penyakit” adalah “penghapus dosa” bagi orang beriman.

Dan “balasan” yg Allah ta’ala menghapuskan dengannya di dunia, siapa yang dikehendakiNya dari orang-orang yang beriman.

Agar mereka kelak bertemu dengan Allah ta’ala “bersih” dosa di akhirat.

Maka kita mohon kepada Allah diberi “kesabaran dan bersabar” saat datang bala’ dan musibah,

12 juni 2021
3 syawwal 1442

https://dorar.net/hadith/sharh/136896

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :
إنَّ عِظمَ الجزاءِ مع عِظمِ البلاءِ ، وإنَّ اللهَ إذا أحبَّ قومًا ابتَلاهم ، فمَن رَضي فله الرِّضَى ، ومَن سخِط فله السَّخطُ

صحيح الترمذي 2396

“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ‘bala’ (bencana), dan sesungguhnya Allah jika “mencintai” suatu kaum, Dia “menimpakan bala” pada mereka. Maka siapa yg “ridha” baginya keridhaan, dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan.

Penjelasan :

Di antara hikmah Allah ta’ala adalah “memberikan” bala, yaitu ujian dan musibah, menguji hambaNya. Agar Dia mengetahui “yang beriman dan taat” dari “yang durhaka dan murka terhadap musibah”.

‘Bala’ ujian dan musibah kadang di timpakan dalam bentuk “kesenangan” dan “kesusahan”.

Sesuai kadarnya, jika ‘bala’ ujian dan musibah “berat”, maka semakin “berat” dan “besar” pahalanya.

“Sesungguhnya Allah jika “mencintai” suatu kaum, Dia “menimpakan bala” pada mereka.”

Yaitu menguji mereka dengan “ujian dan musibah”, barangsiapa menerimanya dengan “ridha”, maka Allah akan meridhainya dan akan membalas dengan kebaikan dan pahala di akhirat.

Dan barangsiapa menerima dengan “ketidaksenangan” dan “kemurkaan”, maka baginya “kemurkaan “. Allah ta’ala murka dan tidak meridhainya di akhirat.

Yang demikian itu karena “musibah”, “sakit dan penyakit” adalah “penghapus dosa” bagi orang beriman.

Dan “balasan” yg Allah ta’ala menghapuskan dengannya di dunia, siapa yang dikehendakiNya dari orang-orang yang beriman.

Agar mereka kelak bertemu dengan Allah ta’ala “bersih” dosa di akhirat.

Maka kita mohon kepada Allah diberi “kesabaran dan bersabar” saat datang bala’ dan musibah,