صورة الجواب للشيخ أحمد السوركتي

 

Download surah-jawab-syaikh-as-surkati

Iklan

Apakah mereka akan mengusirku?

APAKAH MEREKA AKAN MENGUSIRKU?[1]

 

 

 

Dijadikan pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kegemaran untuk menyendiri (beribadah) dan menjauh dari berhala-berhala sebelum beliau diutus menjadi Rasul. Beliau mengasingkan dirinya disebuah gua dekat kota Mekkah, yaitu gua hira (حِرَاء).

Disanalah beliau shallallahu alaihi wasallam merenungkan tentang Tuhan, Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta, dan sedih melihat keadaan penduduk kota Mekkah, kaumnya yang menyembah dan beribadah kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat serta tidak pula memberi mudharat, dan jauh dari kebenaran.

Beliau membawa bekal secukupnya untuk berdiam di gua hira, dan saat bekal telah habis beliau pulang kembali ke rumah menemui istri beliau, untuk mengambil bekal baru dan kembali ke gua hira. Sungguh Khadijah binti Khuwailid adalah sosok istri idaman nan baik. Tidaklah dia menuntut beliau untuk tetap tinggal bersamanya, bahkan dia menyokong dan mendukung suaminya untuk beribadah di gua hira.

Saat berada di gua hira, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar suara berkata padanya: “Bacalah!”, apa yang dibaca, tidak ada didepan beliau kitab atau tulisan, dan bagaimana dapat membaca, beliau seorang yang buta huruf, tidak dapat menulis dan membaca tulisan. Hingga beliau merasakan dekapan kuat menghimpit tubuh beliau. Tiga kali dikatakan pada beliau: “Bacalah!” dan beliau berkata: “Aku tidak dapat membaca!”

Lalu beliau mendengar suara:

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-Alaq : 1-5)

Continue reading “Apakah mereka akan mengusirku?”

12 RABIUL AWWAL

Di hari-hari bulan Dzulhijjah, kita dapati dunia Islam banyak merayakan perayaan, untuk mengenang kelahiran Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Di rumah-rumah, masjid-masjid dibacakan “Sirah Nabi” untuk mengingatkan perilaku Rasulullah dan perjuangan beliau menegakkan agama ini.

Namun apakah benar mewujudkan kecintaaan kepada Rasulullah adalah dengan mengadakan perayaan maulid1 yang tidak ada tuntunannya dalam agama kita? Para sahabat beliau yang “lebih dan lebih” dalam mencintai dan menghormati Rasulullah daripada kita tidak melakukannya?

Terlebih lagi dengan membaca kitab maupun syair-syair yang menyanjung Nabi “berlebih-lebihan” yang menjatuhkan ke dalam kesyirikan.2

Memang benar, di dalam sejarah Nabi kita akan jumpai pelajaran dan ibrah yang “yang segar, jernih, dan melimpah” bagai sumber mata air pegunungan.

Untuk mengambilnya, kita harus berpayah-payah menaikinya, mengeluarkan peluh keringat dan tenaga. Hingga sampailah kita mendapatkannya, meminumnya lalu rasa segar membasahi kerongkongan dan dada kita.

Continue reading “12 RABIUL AWWAL”

Aku tidak peduli saat terbunuh dalam keadaan muslim

Disusun : Abu Hasan Arif

Diriwayatkan al-Imam al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu dia berkata :

بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشَرَةً مِنْهُمْ خُبَيْبٌ الْأَنْصَارِيُّ فَأَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عِيَاضٍ أَنَّ ابْنَةَ الْحَارِثِ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهُمْ حِينَ اجْتَمَعُوا اسْتَعَارَ مِنْهَا مُوسَى يَسْتَحِدُّ بِهَا فَلَمَّا خَرَجُوا مِنْ الْحَرَمِ لِيَقْتُلُوهُ قَالَ خُبَيْبٌ الْأَنْصَارِيُّ
وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ لِلَّهِ مَصْرَعِي
وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ
فَقَتَلَهُ ابْنُ الْحَارِثِ فَأَخْبَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ خَبَرَهُمْ يَوْمَ أُصِيبُوا

Rasullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berjumlah sepuluh orang, di antara mereka adalah Hubaib al-Anshari. Ubaidillah bin Iyad menceritakan kepadaku bahwasanya putri al-Harits memberitahukan padanya saat mereka berkumpul Hubaib meminjam alat pencukur rambut untuk memangkas rambut. Saat mereka keluar dari al-Haram untuk membunuh Hubaib, dia melantunkan syair :

Aku tak peduli saat terbunuh dalam keadaan muslim
Bagaimanapun juga keadaanku saat terbunuh
Karena hal ini aadalah di jalan Allah
Jika Dia berkehendak maka Dia akan memberkahi tubuh yang tercabik-cabik

Continue reading “Aku tidak peduli saat terbunuh dalam keadaan muslim”

Bagaimana seharusnya mencintai Husein radhiyallahuanhu

Bagaimana seharusnya Mencintai Husein radhiyallahuanhu1

Tidak diragukan lagi, bahwa terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu merupakan salah satu musibah terbesar bagi kaum muslimin. Tidak ada lagi di muka bumi ini putera dari puteri Nabi yang tersisa. Dia terbunuh secara zalim. Terbunuhnya Husein merupakan musibah bagi kaum muslimin, namun kematian syahid, kemuliaan serta tingginya derajat dimana beliau lebih memilih Allah bagi kehidupannya di akhirat dan surga yang penuh kenikmatan daripada dunia yang kotor ini.

Namun terbunuhnya Husein tidaklah lebih agung daripada terbunuhnya para Nabi.

Nabi Yahya bin Zakaria, terbunuh dengan kepala terpenggal yang dipersembahkan pembunuhnya sebagai mahar untuk wanita pelacur. Demikian pula nabi Zakaria, terbunuh. Demikian pula para sahabat Nabi, Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhum.

Mereka semuanya, lebih utama atau lebih afdhal daripada al-Husein radhiyallahuanhum.

Continue reading “Bagaimana seharusnya mencintai Husein radhiyallahuanhu”