INTI SARI AJARAN TASAWUF HINDU PAGANIS


INTI SARI

AJARAN TASAWUF HINDU PAGANIS[1]

(lanjutan Agama dan Hukum Alam)

DR Taqiyuddin al-Hilali

 

Disebutkan dalam kitab perbandingan agama karya Doktor Ahmad Syalbi halaman 70, yang isinya sebagai berikut ini : “Hal yang paling ingin dicapai seorang yang menjalankan ritual agama hindu adalah lenyap dalam tubuh Brahma (salah satu tuhan agama hindu), dan amalan yang menyampaikan kepada hal tersebut adalah zuhud, meninggalkan kehidupan duniawi, melampaui batas dalam berpuasa, tidak tidur malam, menyiksa diri dan menahan diri dari segala apa yang diinginkannya, membebankan dirinya dengan hal di luar batas kemampuannya dengan berbagai macam kesusahan, banyak menampakkan kesedihan, ketakutan, dan tidak bersikap optimis, tidak mengharapkan kematian, karena kematian akan memindahkannya pada salah satu babak dalam kehidupannya sebagaimana penjelasan yang lalu tentang inkarnasi arwah. Namun yang diharapkan adalah lenyap dalam tubuh Brahma, oleh karena para pelaku ritual agama hindu paganis dipenuhi dengan kesusahan, melawan kelezatan dengan cara meninggalkan usaha/kerja dan mencukupkan dirinya dengan meminta kepada manusia yang lain di saat keterbutuhan yang sangat.

 

Di dalam buku-buku yang mereka anggap suci, tersebut ajaran yang isinya : “Seseorang yang mampu menguasai dirinya berarti ia telah mampu menguasai jiwanya yang senantiasa mengajak berbuat jahat, dan selamanya jiwa tidak akan merasa kenyang, bahkan bertambah tamak setelah memperoleh apa yang diinginkannya, maka orang yang diberikan segala apa yang diinginkannya dan memperturutkan hawa nafsunya berarti telah membinasan dan mencelakakan dirinya. Dan siapa yang meninggalkan apa yang diinginkannya, membebaskan dirinya dari dunia berarti telah menyelamatkan jiwanya dan menggiringnya menuju kebahagiaan. Bagi seorang yang belajar agama hindu wajib mendidik dirinya menjauhi kue, daging, wewangian dan wanita, demikian juga wajib baginya tidak melumuri jasadnya dengan bau-bau yang wangi, tidak boleh bercelak, tidak boleh bersepatu, tidak boleh berteduh dari terik panas matahari. Wajib baginya tidak memperhatikan rezkinya, namun ia mendapatkan rezkinya dengan meminta-minta. Jika menginjak usia senja, wajib bagimu mengasingkan diri dan tidak mendekati wanita, keluarga serta menetap di hutan. Jika telah menetap di hutan engkau tidak boleh memotong rambut, jenggot, kumis dan kuku. Hendaknya makanan yang engkau makan adalah tetumbuhan dan buah-buahan, dan jangan engkau memetik buahnya dengan tanganmu, namun ambillah buah-buahan yang jatuh. Hendaknya engkau berpuasa, sehari berpuasa sehari berbuka, jauhilah makan daging dan minum khamar (yang memabukkan), biasakanlah dirimu menghadapi perubahan cuaca, duduklah di bawah terik matahari yang membakar, tetapilah duduk beratap langit di saat musim hujan, kenakan selendang yang basah di musim dingin, dan jangan memikirkan kesehatan tubuh. Jauhilah segala hal yang lezat, tidurlah diatas tanah, janganlah merasa senang dengan tempat yang engkau tinggali. Jika engkau berjalan, jalanlah dengan hati-hati agar tidak menginjak tulang atau rambut, atau menginjak serangga, dan jika engkau minum air hati-hatilah jangan sampai menelan nyamuk atau semisalnya, janganlah engkau bergembira dengan hal-hal yang lezat dan jangan pula sedih dengan hal-hal yang tidak lezat.”

 

Muhammad Taqiyuddin al-Hilali (penulis makalah ini) berkata : “Aneh sekali ajaran Brahmana, mereka bersikap hati-hati dari menelan seekor nyamuk tatkala minum, dan berhati-hati dari menginjak semut dengan kaki mereka ketika berjalan, namun membunuh dan menumpahkan darah kaum muslimin, laki-laki dan wanitanya, orangtua dan anak-anak menurut mereka termasuk peribadatan yang paling diridhai oleh tuhan-tuhan mereka, dan arwah-arwah mereka akan naik ke tempat yang paling tinggi.”

Saya dahulu pernah berkunjung di daerah Laknow tahun 1343 H/1923 sebagai tamu Doktor Muhammad Nuaim al-Anshari, saat itu terjadi peperangan antara muslimin dan musyrikin dan hal ini berlangsung selama 8  hari, pasar-pasarpun sepi, para tentara yang dikomandoi oleh Ingris tidak mampu memadamkan fitnah, mereka menaiki mobil-mobil namun mereka tidak dapat meredakan suasana, karena para tentara India sendiri adalah paganis, dan sedikit diantara mereka yang Muslim. Orang-orang kaya hindu memberi upah sepuluh rupiah bagi mereka yang mampu membawa (memenggal) satu kepala orang Muslim maupun muslimah, baik itu orang tua, pemuda, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang sehat maupun yang sakit. Maka kamipun tinggal beberapa hari tanpa mempunyai perbekalan makanan kecuali kacang adas, padahal Doktor al-Anshari hidupnya mewah.

Pada waktu itu Mahatma Gandhi berada dikotaitu, dan dia mempunyai pengikut, penolong dan murid-murid dikotaitu, namun dia  sendiri serta lainnya dari kasta Brahmana tidak peduli dengan terbunuhnya nyawa kaum muslimin. Dan jumlah kaum muslimin dikotaLaknow tidak lebih seperempat dari jumlah pendudukkotaitu, maka kaum musliminpun dibantai, dan yang memulai permusuhan dan mengakhirinya adalah orang-orang paganis itu.

Hal ini mengingatkan kami pada perkataan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma kepada penduduk Iraq ketika mereka bertanya tentang orang yang ihram lalu membunuh nyamuk, bagaimana hukum terhadap orang ini, lalu Ibnu Abbas berkata pada mereka : “Sungguh aneh kalian ini wahai penduduk Iraq, kalian telah menumpahkan darah Husein dan beserta keluarga Nabi yang bersamanya, dan kalian enggan menolongnya lalu kalian datang bertanya tentang hukum membunuh nyamuk”.

Maka tidak ada gunanya mengingat masa lampau, kejadian-kejadian pada hari ini sudah cukup menjadi bukti, kita semua mengetahui bahwa Negara India yang paganis, yang beragama dengan agama para Brahma, telah menyerang 75 juta penduduk di Pakistan timur, mereka menggunakan pedang, bom-bom, membakar, menyiksa dengan di lihat dan di dengar masyarakat dunia.

Tidak ada seorangpun yang menolong mereka, baik itu muslimin maupun selain mereka, dan inilah mereka mengusir kaum muslimin, bersuka ria, mendikte syarat-syarat perdamaian bagi muslimin yang masih hidup di Pakistan Barat, semoga Allah memburukkan orang yang menganggap bahwa zaman ini adalah zaman cahaya, kebebasan, persamaan. Dan orang semacam ini layak dikatakan kepadanya bait syair ini :

ياَ لَيْتَ لِي مِـنْ جِلْدِ وَجْهِكَ رِقْعَـةٌ   فَـأقـد مِنْهَـا حاَفِرًا للأَدهـم

Andai saja aku mempunyai sepotong kulit wajahmu

 

 

ORANG-ORANG BODOH DARI KALANGAN PARA SUFI MENGIKUTI AJARAN PARA PAGANIS HINDU DENGAN MENYIKSA DIRI MEREKA

 

Suatu hal yang telah diketahui bahwa para paganis di India tidak beriman kepada para Nabi, hal ini karena akidah mereka tumbuh dari kebodohan, oleh karena itu tidaklah mengherankan akidah mereka seperti ini, dan yang paling mengherankan ada orang seperti mereka (para sufi) yang hidup di Negara Islam pada zaman Negara-negara Islam bersinar dengan cahaya al-Qur’an dan sunnah, bendera-bendera Islam tegak, hari-hari yang penuh syiar Islam telah masyhur, namun mereka malah meninggalkan al-Qur’an dan sunnah dan sejarah para salaf, justru mengikuti para brahma dalam ritual ibadah-ibadah mereka yang tidak masuk dalam pencernaan akal. Saya akan sebutkan di sini hikayah-hikayah mereka yang lucu dan membuat hati menangis (lantaran kasihan atas apa yang mereka lakukan).

Kisah pertama :  Ibnu al-Kuraiti dan pakaian sufinya

Al-Hafidh Abul Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi dalam kitabnya “Talbis Iblis” menyebutkan tentang Ibnu al-Kuraiti, suatu ketika ia janabah (yang mengharuskannya mandi janabah), saat itu ia mengenakan pakaian sufi yang tebal, lalu ia pergi menuju sungai Dajlah (sungai di India), saat itu udara sangat dingin, hatinya enggan untuk masuk air lantaran cuaca dingin, kemudian ia menceburkan dirinya ke dalam air sungai dengan mengenakan bajunya yang tebal itu, dan terus ia berendam setelah itu dirinya keluar darinya.

Ia berkata : “Saya tidak akan melepaskan baju basah yang saya kenakan ini hingga kering sendiri, dan selama sebulan baju itu tidak mongering”.

Dari sanad yang lain, dari al-Junaid ia berkata : Saya mendengar Abu Ja’far bin al-Kuraiti berkata : “Suatu malam saya janabah, dan saya harus mandi saat itu, namun cuaca malam sangat dingin, hatikupun enggan untuk melakukannya, dan membisikkan agar aku tidak mandi malam itu, hingga pagi hari saat air telah hangat, atau mandi di tempat pemandian, kalau engkau tidak mau melakukan hal ini hendaknya engkau tidak memperdulikan bisikan hatimu”.

Akupun berkata dalam hatiku : “Sungguh mengherankan, saya telah beribadah kepada Allah I sepanjang umurku melaksanakan kebenaran namun tidak dapat bersegera untuk mentaatinya (bersegera mandi janabah), justru saya dapati diriku enggan, berlambat-lambat dalam mentaati, maka saya bersumpah tidak akan mandi kecuali harus mandi di sungai, dan saya bersumpah tidak akan mandi melainkan mandi dengan mengenakan baju tebal ini, dan saya bersumpah tidak  akan memeras bajuku ini (setelah basah kena air), dan saya bersumpah tidak akan mengeringkannya di terik sinar matahari”.

Kemudian Ibnul Jauzi berkata : “Berat bajunya adalah 11 liter”. Syaikh Taqiyudin al-Hilali (penulis makalah ini) berkata : jika baju itu kenar air tentunya beratnya dua kali lipatnya”.

Al-Hafid Ibnul Jauzi berkata : “Ibnu al-Kuraiti menceritakan kisahnya itu kepada manusia dimana ia beranggapan telah melakukan suatu hal yang baik, lalu manusia bercerita tentang apa yang telah dilakukannya itu untuk menyebutkan tentang keutamaannya. Padahal yang demikian itu adalah hal yang salah karena Ibnu al-Kuraiti telah melakukan kedurhakaan terhadap Allah I dengan apa yang dilakukannya, dan yang kagum terhadap perbuatannya itu hanyalah orang awam yang dungu, dan bukannya para ulama. Tidak diperbolehkan bagi seseorang menyiksa dirinya. Dan Ibnu al-Kuraiti telah melakukan berbagai macam siksaan terhadap dirinya sendiri, dimana ia mencebur ke-dalam air yang dingin, dan ia mengenakan baju tebal yang tidak dapat leluasa bergerak, dan semua amalannya itu adalah kesalahan dan dosa”.

Kisah kedua :

Abu Hamid al-Ghazali (Imam Ghazali, pengarang kitab Ihya Ulumuddin) mengkisahkan dari Ibnu al-Kuraiti bahwasanya ia berkata : “Saya pernah singgah di suatu daerah yang saya ketahui merupakan kawasan yang baik, lalu saya merasakan dalam hatiku bahwa saya termasuk dari kalangan orang-orang shalih yang  berhak mendapatkan penghormatan, lalu aku masuk ke tempat pemandian, dan aku lihat di situ ada sebuah pakaian yang bagus, lalu aku mencurinya dan kukenakan, dan aku kenakan juga bajuku yang tebal untuk menutupinya, lalu aku keluar dan berjalan perlahan-lahan, namun manusia memperhatikan bajuku dan menemukan baju yang aku curi, merekapun menampariku, maka semenjak itu saya dikenal sebagai pencuri baju pemandian dan menjadi tenanglah jiwaku (ia mencuri untuk memberi pelajaran dirinya yang merasa sombong setelah berkaca, pent). Abu Hamid al-Ghazali berkata : “Demikianlah mereka (para sufi) ridha terhadap diri mereka hingga Allah I membebaskan mereka dari pandangan mahluk (kepada mereka), dan dari pandangan jiwanya terhadap dirinya, bahkan mereka mengobati jiwa-jiwa mereka dengan amalan yang tidak di ajarkan para ulama selama mereka melihat bahwa hal itu  baik bagi jiwa mereka, lalu  mereka mendapati kekurangan yang  terdapat pada jiwa mereka, seperti yang  dilakukan seorang sufi ini.”

Al-Hafid Ibnul Jauzi berkata setelah menyebutkan kisah itu : “Maha suci Allah, siapakah yang mengeluarkan Abu Hamid (Imam Ghazali) dari pemahaman fikih yang benar dengan mengarang kitab “Ihya Ulumuddin”, mengapa ia mengkisahkan kisah ini dalam kitabnya itu, yang patut diherankan darinya bahwasanya ia mengkisahkan kisah  itu dan menganggapnya bagus, (maka dikatakan padanya) keadaan yang bagaimana lagi yang lebih buruk dari keadaan orang yang menyelisihi syariat dan menganggap amalan yang menyelisihi syariat sebagai amalan baik?”

Dan keherananku terhadap imam Ghazali yang terjerumus dalam tasawuf ini lebih mengheranku dari perbuatan Ibnu al-Kuraiti yang mencuri pakaian untuk menghilangkan sifat sombongnya.

Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa ia mendengar Abu al-Hasan al-Madini berkata : “Suatu kali saya ke luar dari kota Baghdad menuju sungai an-Nasyiriyah, dan di salah satu desa di dekat sungai itu terdapat seseorang menuju teman-teman kami, dan ketika saya berjalan di tepian sungai, saya melihat sebuah pakaian tebal, sandal di buang di sungai, akupun memungutnya dan diriku berkata : “ini milik seorang miskin”, lalu aku berjalan lagi tiba-tiba kudengar suara omelan di sungai, akupun melihat ternyata suara Abu al-Hasan ats-Tsauri yang menceburkan dirinya dalam air, tatkala aku melihatnya aku mengetahui bahwa pakaian ini adalah miliknya, maka akupun turun menuju ke arahnya dan ia melihatku dan berkata :

“Wahai Abu al-Hasan al-Madini tidakkah engkau melihat apa yang Allah lakukan padaku”, dan iapun menangis, akupun kasihan padanya, kemudian aku bersihkan ia dari lumpur dan aku pakaikan baju tebal itu, dan aku bawa ia ke rumah lelaki itu, dan kami berada di situ hingga ashar, lalu kami keluar menuju masjid, tatkala tiba waktu maghrib, saya melihat manusia lari menutup pintu-pintu rumah mereka dan naik ke atap rumah. Kamipun bertanya kepada mereka apa  yang terjadi, merekapun menjawa : binatang buas memasuki desa pada malam hari, dan di dekat desa tersebut terdapat hutan yang sangat lebat, ada sebuah  pohon yang di tebang dan tinggal akar-akarnya yang lancip seperti pisau-pisau, lalu Abu al-Hasan ats-Tsauri berlari dan meloncat ke semak belukar akar-akar pohon yang lancip itu, dan berteriak sambil berkata : “Dimana kamu  wahai binatang buas”, kamipun khawatir singa menerkamnya, atau ia terluka terkena akar-akar pohon itu.

Keesokan harinya menjelang subuh, ia datang dan merebahkan dirinya sedangkan kakinya terluka maka kamipun mengambil alat untuk menyelamatkannya, maka selama empat puluh hari ia tidak dapat berjalan kaki. Akupun bertanya : “Mengapa engkau meloncat dalam semak belukar?” Ia menjawab : “Tatkala penduduk desa mengatakan ada binatang buas, aku dapati diriku ketakutan, maka aku katakan kepada jiwaku aku akan mengusir ketakutanmu menuju apa yang engkau takuti.”

Al-Hafidh Ibnul Jauzi berkata mengomentari kisah di atas : “Bukan suatu hal yang tersembunyi bagi seorang yang berakal bahwa syaitan telah menyambar/menyesatkan laki-laki ini sebelum di menceburkan dirinya dalam lumpur dan air, dan bagaimana seorang manusia diperbolehkan menceburkan dirinya dalam air dan lumpur, tidaklah yang melakukan ini melainkan seorang gila, dimana kehebatan dan keagungan ucapannya “Engkau melihat apa yang dilakukan Allah terhadapaku?” (dan seolah-olah ia memaparkan apa yang dilakukan Allah padanya kepada orang yang diajaknya bicara), lalu apa yang diinginkannya dengan menceritakan kisahnya? sungguh ia telah menyelisihi syariat agama ketika keluar mencelakakan dirinya”.

 

MEREKA MENYIKSA DIRI

DENGAN BERLAPAR-LAPAR

 

Al-Hafidh ibnul Jauzi mengkisahkan banyak hikayat dalam kitabnya itu tentang bagaimana para sufi menyiksa diri mereka sendiri dengan berlapar-lapar, mereka banyak menambah-nambahinya dengan cara-cara para paganis hindu melakukan ritual penyembahan, saya akan sebutkan sedikit disini kisahnya yang tersebut dalam kitab talbis iblis hal. 200, dimana Abu Hamid at-Thusi mengkisahkan tentang seorang bernama Sahl dari Ibnu Abdillah at-Tusturi bahwa ia berkata : “Adalah Sahl memakan dedaunan beberapa tahun, makan jerami selama tiga tahun, dan hanya makan dengan biaya tiga dirham selama tiga tahun (sangat sedikit)”.

Diantara sikap ritual para rahib yang mereka jalani adalah mereka tidak menikah, meninggalkan pekerjaan untuk beribadah kepada Allah, dan ini termasuk kebodohan terhadap sunnah Allah, fitrah dan berusaha merubah sunnah Allah dan fitrahnya. Rasulullah r telah mengajarkan kepada kita bahwa ibadah kepada Allah tidak terbatas hanya sebatas puasa dan shalat.

Bahkan setiap ucapan dan perbuatan yang dimaksudkan untuk mengharap wajah Allah adalah ibadah, dan Allah I telah mewajibkan kepada hamba-Nya banyak sekali kewajiban, maka barangsiapa menyia-nyiakan sebagiannya seperti menyia-nyiakan seluruhnya, dari Anas bin Malik ia berkata :

“Datang tiga orang ke rumah para istri nabi r menanyakan tentang ibadah Nabi r, tatkala mereka diberitahu tentang ibadah beliau r seolah-olah mereka menganggap ibadah nabi masih sedikit, dan mereka berkata : Kita tidak sama dengan Nabi r, beliau r telah diampuni dosanya yang kemudian dan telah lalu, lalu salah seorang diantara mereka berkata : “Saya akan shalat malam sepanjang malam dan tidak akan tidur, dan yang lain berkata : “Adapun saya akan berpuasa selamanya dan tidak akan berbuka, dan yang lain berkata : “Saya tidak akan menikah selamanya”, lalu Rasulullah r datang dan bersabda :

“أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَالله إِنِّي لَأَخْشَاكُمُ للهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، وَلَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَجُ النِسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَتِيْ فَلَيْسَ مِنِيْ”

“Apakah kalian yang mengatakan ini dan itu, demi Allah, saya adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa, akan tetapi saya berpuasa dan dihari lainnya tidak berpuasa, saya shalat malam dan juga tidur, dan saya juga menikah, maka barangsiapa membenci sunnahku maka bukan dari golonganku”. (HR. Bukhari)

Nabi r marah atas mereka karena beberapa perkara : diantaranya karena mereka bodoh dalam masalah dasar agama, yaitu setiap ucapan, perbuatan yang ditujukan mengharapkan wajah Allah dinamakan ibadah, ketidakmengertian akan hal ini akan mengakibatkan pelakunya tersesat, kemudian perkara yang lain adalah mereka menyangka lebih kuat dan mampu dari Nabi r dalam beribadah, dan ini kesalahan lebih besar dari kesalahan sebelumnya, kemudian jika mereka disibukkan dengan satu macam ibadah mereka akan menyia-nyiakan kewajiban dan hak lainnya, mereka itu seperti orang yang melunasi hutang dengan hutang lainnya, maka alangkah indahnya ucapan penyair ini :

إِذَا مَا قَضَيْتَ الدِّيْنَ باِلدَّيْنِ لَمْ يَكُـنْ

قَضَـاءٌ وَلَكِـنْ ذَاكَ غَـَرمٌ عَلَى غَرَم

Jika engkau melunasi hutang dengan hutang

Itu bukanlah pelunasan hutang, namun hutang yang bertumpuk-tumpuk

Masalah ini lebih dijelaskan lagi dalam hadits Abu Dzar dari Nabi r Abu Dzar berkata : manusia mengatakan pada Nabi r :

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ فَقَالَ أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّهُ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَبِكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَبِكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَبِكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ فَقَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الْحَرَامِ أَلَيْسَ كَانَ يَكُونُ عَلَيْهِ وِزْرٌ أَوِ الْوِزْرُ قَالُوا بَلَى قَالَ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ يَكُونُ لَهُ الْأَجْرُ

 

 “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya memborong pahala, mereka shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka  bersedekah dengan kelebihan harta mereka”.

Nabi r menjawab : “Bukankah Allah I telah menjadikan segala yang dapat kalian gunakan untuk  sedekah, sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap ucapan la ilaha illallah adalah sedekah, setiap ucapan alhamdulillah adalah sedekah, menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran juga sedekah, dan berjima dengan istri juga sedekah”. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah melampiaskan syahwat/berjima dengan istri juga mendapatkan pahala?” Beliau r menjawab : “Bagaimana pendapat kalian jika seseorang melakukan perzinaan bukankah mendapatkan dosa?” demikian juga jika seseorang melakukan hal yang halal maka ia mendapatkan pahala”. (HR. Muslim)

 

 

Dari Abu Dzar ia berkata : Rasulullah r bersabda :

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

 

 “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun walau hanya menjumpai saudaramu dengan wajah yang cerah”. (HR. Muslim)

 

عَنْ  أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ : رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah r bersabda : “Setiap ruas tulang manusia membutuhkan sedekah setiap matahari terbit, engkau bersikap adil terhadap dua orang adalah sedekah,  engkau membantu seseorang naik kendaraannya atau menaikkan barangnya di kendaraannya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, dan setiap langkah kakimu menuju masjid untuk shalat adalah sedekah, menyingkirkan gangguan dari jalan juga sedekah”. (Muttafakun alaihi)

Di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqas bahwasanya Nabi r bersabda kepadanya :

إِنَّكَ إِنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَلَسْتَ تُنْفِقُ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى اللُّقْمَةُ تَجْعَلُهَا فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan mampu adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada manusia, dan sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan nafkah mengharapkan wajah Allah kecuali kamu akan diberi pahala atasnya, demikian pula makanan yang engkau berikan pada istrimu”.(HR. Muslim)

Dan masih banyak lagi hadist lainnya tentang masalah ini, kami mencukupkan ini saja.

Jika kita memperhatikan berbagai macam kebaikan di dalam hadits-hadits itu, kita akan mendapatkan banyak sekali kebaikan, pertama zikir kepada Allah dengan hati dan lisan, kedua amar makruf dan nahyi mungkar, dan semua ini perkara syariat yang baik, ketiga melarang dari kemungkaran, yaitu segala kemungkaran yang haram seperti kezaliman, permusuhan, melampaui hukum Allah. Keempat menikah dan berhubungan dengan istri untuk memperoleh keturunan, dan melarang suami istri dari terjatuh pada hal yang membinasakan, dan mencukupkan diri dari hal yang haram dengan hal yang halal. Kelima hak tamu dan orang yang mengunjungi kita sebagaimana dalam hadits Salman dan Abu Darda dalam shahih Bukhari bahwa Nabi r bersabda padanya :

 

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya  Rabbmu mempunyai hak, dirimu sendiri juga mempunyai hak, keluargamu juga mempunyai hak, berilah haknya setiap yang punya hak”. (HR. Bukhari)

Dan masih banyak lagi hak-hak lainnya,  seperti hak anak-anak, hak keduaorangtua, dan seluruh kerabat, orang miskin, para sahabat, musafir dan lainnya.  Dan ada ancaman dari menyia-nyiakan setiap hak ini, dan sabda Nabi r :  “Setiap pagi setiap ruas tulang manusia membutuhkan sedekah”, ruas tulang adalah bagian tubuh, dan setiap pagi manusia mempunyai kewajiban ke-masyarakatan sesuai dengan jumlah anggota tubuhnya, jika dia mendapati dua orang yang sedang bertengkar, ia mendamaikan keduanya dengan keadilan maka berarti ia telah menunaikan kewajban salah satu bagian dari bagian tubuhnya, jika ia menjumpai seseorang hendak menaiki kendaraannya atau mobilnya atau kapal, atau ia membawa barang-barangnya dan menolongnya, maka berarti ia telah menunaikan kewajiban bagian tubuh tersebut, jika ia mendapati di jalan sesuatu yang mengganggu manusia iapun menyingkirkannya, maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya. Dan hal-hal yang mengganggu manusia di jalan yang mereka lalui banyak sekali, diantaranya duri, batu, najis, perampok, binatang buas, segala hal yang beracun, dan masuk dalam masalah ini pembangunan jembatan, bendungan, meratakan jalan dan menghilangkannya dari lumpur. Dan diantara hal yang termasuk ibadah kepada Allah adalah mencari/mengumpulkan harta dari jalan yang halal hingga dapat mencukupi dirinya, keluarganya dan meninggalkan untuk ahli warisnya harta yang mencukupi mereka, dan diantara ibadah mendekatkan diri kepada Allah adalah bersikap lembut kepada istri dengan memilih makanan yang diinginkan atau buah serta menafkahi sebagaimana dalam hadits di atas, sedangkan orang yang hanya memperhatikan shalat, puasa dan menjauhi dari manusia akan kehilangan pahala hal-hal di atas, dan lainnya seperti belajar, mengajar, amar  makruf dan nahyi mungkar, jihad fi sabilillah, mengantarkan jenazah dll, dari hal-hal yang termasuk ibadah kemasyarakatan.

Dan permasalahan ini luas sekali tidak cukup dengan satu jilid buku untuk menulisnya, maka kami cukupkan tulisan ini sesuai batasan ini. (selesai)

Alih bahasa : Abu Hasan Arif


[1] Disusun, disarikan dan diterjemahkan oleh Abu Hasan Arif

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s