وصف الجنة لابن القيم
يا خاطب الحور الحسان وطالباً
لوصالهن بجنة الحيوان
أسرع وحث السير جهدك إنما
مسراك هذا ساعة لزمان
هي جنة طابت وطاب نعيمها
فنعيمها باق وليس بفان
Istri Suami berselisih dengan Ibu Mertua
Tanya jawab bersama : Asy-Syaikh Ali Hasan al-Halabi
Seorang wanita bertanya : Setiap kali dia mengunjungi ibu dari sang suami, terjadi perselisihan yang semakin bertambah antara dia dan ibu suaminya. Dan dia memutuskan – dan ini disetujui suaminya – bahwa dia tidak mengunjungi ibu suaminya, kecuali jika ada acara dan hari raya atau saat ibu suaminya sakit. Apakah yang dilakukan wanita ini boleh – berdasarkan syariat agama – ataukah tidak boleh? Karena wanita ini ingin hidup tenang bersama suaminya jauh dari permasalahan.
Jawaban Syaikh Ali Hasan al-Halabi :
Ini adalah permasalahan yang terjadi semenjak dahulu antara istri dengan ibu mertua, dan senantiasa berulang-ulang, dan saya berkeyakinan – sekalipun banyaknya perselisihan – bahwa berbuat baik kepada ibu mertua termasuk dari perbuatan baik kepada suami, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
بُلُّوا أَرْحَامَكُمْ وَلَوْ بِالسَّلام
“Hubungilah kerabat keluargamu sekalipun hanya dengan mengucapkan salam”[1]
Dan saya mengkhawatirkan tindakan membatasi kunjungan, yaitu hanya datang jika ada acara saja, justru akan memperdalam perselisihan dan memanaskan hati untuk bermusuhan.
Oleh karena itu nasehat saya adalah : “Bersabar, tetap mengunjungi, menahan beban dan insya Allah, hal ini berdampak baik.
Sumber : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showpost.php?p=151537&postcount=48
[1] Ash-Shahihah 1777
Tipu daya Iblis terhadap Sang Rahib
Ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang terkenal sebagai Rahib yang paling tekun beribadah pada masanya.
Suatu ketika ada tiga orang lelaki bersaudara akan bepergian untuk berperang, dan mereka mempunyai saudara wanita yang masih perawan. Saat akan bepergian mereka tidak mengetahui kepada siapa saudara wanita mereka itu akan dititipkan dan di amanatkan.
منهج السلف سبيل النجاة
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه، وبعد:
فإن منهج السلف هو المنهج الحق للإسلام عقيدة وعملا، وهو بذلك يمثل الخط المستقيم والامتداد الأصيل لما كان عليه المسلمون الأوائل الذين فارقهم النبي صلى الله عليه وسلم وهو عنهم راض.
وقد ظهر مصطلح «السلف» واشتهر حين ظهر النزاع ودار حول أصول الدين بين الفرق الكلامية، وحاول الجميع الانتساب إلى السلف، وأعلن أن ما هو عليه ما كان عليه السلف الصالح.
من هم السلف؟
السلف الصالح هم الصدر الأول الراسخون في العلم، المهتدون بهدي النبي صلى الله عليه وسلم الحافظون لسنته، اختارهم الله تعالى لصحبة نبيه، وانتخبهم لإقامة دينه، ورضيهم أئمة الأمة، فجاهدوا في سبيل الله حق جهاده، وأفرغوا جهدهم في نصح الأمة ونفعها، وبذلوا في مرضاة الله أنفسهم
وقــد أثنى الله تعالى عليهم فـي كتابه بقـوله: محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التوراة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطأه فآزره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار وعد الله الذين آمنوا وعملوا الصالحات منهم مغفرة وأجرا عظيما{ (الفتح 29):
Apakah ayah nabi shallallahu alaihi wasallam termasuk ahlul fathrah?
http://www.binbaz.org.sa/mat/10388
Pertanyaan : Allah ta’ala berfirman :
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
Dan Kami tidak mengazab hingga kami mengutus seorang Rasul
Bukankah ayah Nabi termasuk Ahlul Fatrah (umat yang berada dalam kekosongan masa Rasul dan kelak mendapatkan ujian di akhirat), dan al-Qur’an dengan jelas menyebutkan bahwa mereka selamat? Kami memohon jawabannya, semoga Allah membalas kebaikan anda.

Jawaban : Ahlul fatrah tidak tersirat di dalam al-Qur’an bahwa mereka selamat atau binasa, Allah hanya menjelaskan :
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولاً
Dan Kami tidak mengazab hingga kami mengutus seorang Rasul
Karena di antara keadilan Allah ta’ala, Dia tidak mengazab seseorang kecuali setelah Dia mengutus seorang Rasul kepadanya. Maka seorang yang belum sampai padanya dakwah Islam tidaklah di azab hingga ditegakkan hujjah atasnya. Dan Allah telah mengabarkan bahwasanya Dia tidak mengazab mereka kecuali setelah ditegakkannya hujjah, dan hujjah bisa jadi ditegakkan atas mereka pada hari kiamat. Sebagaimana hadits Nabi menyebutkan bahwa ahlul fatrah akan diuji pada hari kiamat, barangsiapa taat dan mengikuti perintah maka dia pasti selamat, sebaliknya barangsiapa durhaka maka dia pasti masuk neraka.
Jika Hati bersinar
Ibnul Qayyim berkata :
إِذَا أَشْرَقَ القَلْبُ بِنُوْرِ الطَّاعَةِ
أَقْبَلَتْ وُفُوْدُ الْخَيْرَاتِ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ ناَحِيَةٍ
فَيَنْتَقِلُ صَاحِبُهُ مِنْ طَاعَةٍ إِلىَ طَاعَةٍ
وَإِذَا أَظْلَمَ القَلْبُ بِظَلاَمِ الْمَعْصِيَةِ أَقْبَلَتْ سَحَائِبُ الْبَلاَءِ
وَالشَّرُّ إِلَيْهِ مِنْ كُلِّ ناَحِيَةٍ فَيَنْتَقِلُ صَاحِبُهُ مِنْ مَعْصِيَةٍ إِلىَ مَعْصِيَةٍ
وَيُصْبِحُ كاَلأَعْمَى الَّذِي يَتَخَبَّطُ فِي حَنَادِسِ الظَّلاَمِ
Jika hati bersinar, dengan sinar “ketaatan (pada-Nya)”
Datanglah dari segala penjuru “utusan-utusan” kebaikan
Pemilik hati ini akan berpindah dari satu ketaatan pada ketaatan lainnya
Dan jika hati gelap, lantaran kegelapan “maksiat”
Datanglah “awan gelap” bencana dan kejahatan padanya
Dari segala penjuru
Maka pemilik hati ini akan berpindah dari satu kemaksiatan pada maksiat lainnya
Jadilah dia seperti orang buta, dalam gelap gulita nan kelam
Abhasn arif
Cinta dan Benci Fillah
Makna cinta dan benci di jalan Allah[1]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Qaidah fil mahabbah :
أَصْلُ الْمُوَالاَةِ هِيَ الْمَحَبَّةُ كَمَا أَنَّ أَصْلُ الْمُعَادَةِ البُغْضُ ، فَإِنَّ التَّحَابَّ يُوْجِبُ التَّقَارُبَ وَالاِتِّفَاقَ ، وَالتَّبَاغُضُ يُوْجِبُ التَّبَاعُدَ وَالاِخْتِلاَفَ
“Pokok dari kasih sayang (al-wala/loyalitas) adalah kecintaaan (al-Mahabbah) sebagaimana pokok dari al-Mua’adah (permusuhan) adalah kebencian. Sesungguhnya kecintaan itu menjadikan kedekatan hubungan dan kesepakatan, adapun kebencian menjadikan jauhnya hubungan dan perselisihan.”[2]
Al-Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang Cinta di jalan Allah, dia menjawab :
أَلاَ تُحِبُّهُ لِطَمْعِ فِي دُيْنَاهُ
“Engkau tidak mencintai seseorang karena menginginkan hartanya.”[3]
Dari uraian pendapat para ulama, dapat disimpulkan bahwa cinta dan benci adalah amalan hati, tempatnya di hati, akan tetapi amalan hati ini harus nampak dalam amalan tubuh, maka tidak benar seseorang mengatakan : Saya membenci fulan di jalan Allah lalu engkau melihatnya mengunjungi, membantu dan menolong orang yang dia benci di jalan Allah! Dimana letak kebencian di jalan Allah?
Misalnya kita membenci musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nashara. Kebencian ini letaknya di hati akan tetapi dinampakkan dalam bahasa tubuh, yaitu tidak memulai mengucapkan salam kepada mereka. Sebagaimana sabda Nabi :
لاَ تَبْدَءُوا اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلاَمِ
“Janganlah memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashara.”
Atau tidak ikut serta dalam perayaan hari raya mereka, karena termasuk perbuatan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Allah ta’ala berfirman :
وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالعُدْوَانِ
“Janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”(al-Maidah: 2)
Demikian pula cinta di jalan Allah, jika kita mencintai orang-orang shalih, mencintai para nabi dan sahabatnya, kecintaan ini letaknya di hati akan tetapi harus dinampakkan dengan bahasa tubuh. Jika kita cinta kaum muslimin maka kita sebarkan salam, sebagaimana sabda Nabi :
أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلىَ شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ، أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ
“Maukah aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukannya pasti timbul kecintaan pada diri kalian, yaitu sebarkan salam di antara kalian.”
Nasab TIdak Akan Mendahului Amal
NASAB KETURUNAN TIDAK AKAN DAPAT MENDAHULUI AMAL
Allah ta’ala menciptakan seluruh umat manusia dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam alaihissalam, sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Oleh karena itu tidak ada keutamaan bagi orang Arab terhadap orang yang bukan Arab, orang putih atas orang hitam, orang Eropa atas orang Asia melainkan dengan ketakwaan kepada Allah.
Alllah ta’ala berfirman :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa.” (QS al-Hujurat : 13)

Barometer keutamaan dalam manusia menurut agama Islam adalah iman, amal shalih, ketakwaan kepada Allah, dan perangai yang baik. Akan tetapi saat manusia “merugi” dari mempergunakan barometer ini, maka merekapun mencari pengganti lainnya, untuk dapat “merasa lebih tinggi” dari manusia lainnya. Mereka menggunakan nasab, warna kulit, harta, kemuliaan sebagai ukuran “keutamaan” dari manusia lainnya, sekalipun “kosong melompong” dari amal shalih.




